Di Balik Gerem Trail Run: Orang-Orang, Organisasi, dan Semangat yang Mewujudkan Event Ini
Ada sebuah hal yang tidak pernah tampak di foto finish line dan itu bukan medali, bukan juga confetti. Yang tidak terlihat adalah ribuan jam kerja yang terjadi jauh sebelum garis start dipasang: langkah kaki yang menelusuri jalur berlumpur di subuh buta, diskusi panjang di gardu base camp, dan kepercayaan yang dibangun satu jabat tangan dalam satu waktu. Di balik Gerem Trail Run, ada orang-orang yang bergerak diam-diam, dan inilah cerita mereka.
Sebuah Event Dimulai Jauh Sebelum Hari-H
Banyak peserta event lari yang datang, berlari, menerima medali, lalu pulang dengan cerita seru. Sangat sedikit yang menyadari bahwa pengalaman selama beberapa jam di hari lomba itu adalah hasil dari persiapan yang bisa memakan waktu enam bulan hingga lebih dari satu tahun. Gerem Trail Run bukan pengecualian.
Ketika tim Citasindo sebagai penyelenggara di balik Banten Trail Quest Series pertama kali menginjakkan kaki di kawasan Bukit Kembar Gerem, yang mereka lihat bukan sebuah arena siap pakai. Yang mereka lihat adalah potensi mentah: hutan yang menantang, jalur setapak warga yang belum dipetakan, dan komunitas lokal yang hidup berdampingan dengan alam ini sejak lama. Pertanyaan pertama bukan "bagaimana kita bikin event di sini?" melainkan: "siapa yang sudah lama menjaga tempat ini, dan bagaimana kita bisa bekerja bersama mereka?"
Itulah titik awal yang membedakan pendekatan Gerem Trail Run dari banyak event outdoor lainnya. Bukan top-down, bukan tim dari luar yang datang, mengatur, lalu pergi. Melainkan sebuah kolaborasi yang tumbuh dari bawah, dengan komunitas lokal sebagai tulang punggungnya.
Dua Komunitas Lokal yang Menjadi Tulang Punggung
Kalau kamu pernah bekerja dalam sebuah proyek besar dan menyadari bahwa orang yang paling tahu medan adalah yang selama ini diam di pojok ruangan, kamu akan mengerti persis apa yang terjadi di Gerem. Ada dua komunitas yang sejak awal menjadi mitra strategis, bukan sekadar figuran, tapi pemain kunci yang sulit tergantikan.
Komunitas pendaki dan pecinta alam yang memiliki pengetahuan mendalam tentang topografi, jalur, dan kondisi medan kawasan Gerem. Menjadi mitra utama dalam survei dan pemetaan rute trail.
Kelompok warga lokal yang telah lama mengelola potensi wisata Bukit Kembar. Menjadi jembatan antara penyelenggara dengan masyarakat setempat dan penjaga nilai-nilai kearifan lokal kawasan.
Penyelenggara utama Banten Trail Quest Series. Membawa pengalaman manajemen event, jaringan nasional, dan infrastruktur teknis yang memungkinkan kolaborasi ini terwujud secara profesional.
AOPGI Cilegon: Mereka yang Hafal Setiap Tikungan
AOPGI (Asosiasi Olahraga Pendakian Gunung Indonesia) Kota Cilegon bukan sekadar nama organisasi yang tertera di proposal. Mereka adalah orang-orang yang sudah menginjak tanah Bukit Kembar jauh sebelum siapapun memikirkan untuk membuat event di sana.
Bayangkan kamu harus merancang rute lari sejauh 20 kilometer di medan yang belum pernah digunakan untuk event terstruktur sebelumnya. Kamu perlu tahu di mana jalur terlalu sempit untuk dilewati pelari bersamaan, di mana tanah longsor pernah terjadi saat hujan, di mana mata air tersedia untuk kedaruratan, dan di mana titik evakuasi paling realistis jika ada peserta yang cedera di tengah rute. Pengetahuan seperti itu tidak ada di Google Maps, hanya ada di kepala orang-orang yang sudah ratusan kali berjalan di jalur itu.
Tim AOPGI Cilegon mengambil peran sebagai pemandu survei lapangan dan konsultan keselamatan rute. Mereka berjalan bersama tim teknis Citasindo, menandai titik-titik kritis, mengidentifikasi potensi bahaya, dan memberikan masukan tentang jalur mana yang layak digunakan dan mana yang perlu dikondisikan terlebih dahulu. Kontribusi semacam ini, dalam bahasa manajemen event profesional, disebut sebagai local expert knowledge dan nilainya tidak bisa dibeli dengan budget sebesar apapun (Chalip, 2004).
POKDARWIS Bukit Kembar: Wali Kearifan Lokal
POKDARWIS (Kelompok Sadar Wisata) Bukit Kembar hadir dari sudut pandang yang berbeda namun sama pentingnya. Jika AOPGI membawa pengetahuan medan, POKDARWIS membawa sesuatu yang lebih halus tapi jauh lebih fundamental: kepercayaan masyarakat setempat.
Dalam pengembangan pariwisata berbasis komunitas, Suansri (2003) menegaskan bahwa keberhasilan sebuah event wisata alam sangat bergantung pada tingkat penerimaan dan partisipasi aktif masyarakat lokal. Event yang datang tanpa melibatkan komunitas cenderung menciptakan gesekan sosial, kerusakan relasi, dan dampak negatif jangka panjang terhadap kawasan, bahkan jika niat awalnya baik sekalipun.
POKDARWIS Bukit Kembar menjadi pintu masuk ke jaringan sosial kawasan Gerem. Mereka yang memfasilitasi komunikasi dengan warga sekitar rute, membantu menjelaskan bahwa event ini bukan sekadar "orang luar yang datang berlari", tapi sebuah kegiatan yang dirancang untuk mengangkat nama kawasan dan memberi manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat lokal.
"Ketika komunitas lokal bukan hanya diundang tapi benar-benar dilibatkan dari awal, mereka bukan lagi sekadar penonton di pinggir jalur, mereka menjadi tuan rumah yang bangga."
— Prinsip Community-Based Tourism, Suansri (2003)
Bagaimana Sebuah Jalur Trail Lahir dari Nol
Proses pembuatan rute trail yang aman dan layak untuk ratusan pelari adalah pekerjaan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar "menandai jalur dengan pita merah". Ada tahapan panjang yang harus dilalui, dan di Gerem Trail Run, proses ini dilakukan dengan pendekatan yang sangat teliti.
🌿 Catatan lapangan: Saat tim kami ikut dalam salah satu sesi recce di jalur, ada sebuah momen yang sulit dilupakan, kami tiba di sebuah persimpangan jalur bukit batu yang dari peta tampak sederhana, tapi di lapangan ternyata tidak ada jalur yang tampak, seluruhnya tertutup dengan rumput atau ilalang lebat. Jalur harus dialihkan dan dilakukan pergeseran. Tanpa penandaan yang tepat, ribuan pelari bisa tersesat dalam hitungan detik. Itulah kenapa kehadiran tim AOPGI di setiap sesi survei bukan sekadar formalitas melainkan kebutuhan yang tidak bisa dikompromikan.
Persiapan Teknis yang Tidak Terlihat dari Luar
Di luar pemetaan rute, ada daftar panjang persiapan teknis yang berjalan paralel dan masing-masing melibatkan orang-orang berbeda dengan keahlian spesifik. Berikut gambaran komprehensif dari apa yang sedang dikerjakan:
| Aspek Persiapan | Deskripsi | Pihak Terlibat | Status |
|---|---|---|---|
| Pemetaan Rute GPX | Pembuatan file GPX resmi untuk seluruh kategori lomba yang dapat diunduh peserta | Tim Teknis Citasindo + AOPGI | Berjalan |
| Kondisioning Jalur | Pembersihan, penguatan, dan penandaan rute di seluruh segmen | AOPGI + POKDARWIS + Warga Lokal | Berjalan |
| Pos Medis & Evakuasi | Penentuan lokasi pos medis, jalur evakuasi, dan koordinasi ambulans | Tim Medis + SAR Lokal | Berjalan |
| Perizinan | Koordinasi dengan Pemkot Cilegon, Polres, dan instansi terkait | Manajemen Citasindo | Berjalan |
| Penandaan Rute | Pemasangan rambu arah, pita batas, dan penanda checkpoint permanen | AOPGI + POKDARWIS + Relawan Lokal | Segera |
| Area Finish & Panggung | Perancangan tata letak area finish, stage awarding, food bazaar, dan parkir | Tim Produksi Citasindo | Segera |
UMKM Lokal: Ketika Event Menjadi Mesin Ekonomi Mikro
Ini adalah bagian yang paling jarang disorot di pemberitaan event trail run, tapi bagi tim Gerem Trail Run, ini justru salah satu indikator keberhasilan yang paling bermakna. Sebuah event yang baik bukan hanya memberi pengalaman luar biasa bagi peserta, tapi juga meninggalkan dampak nyata bagi ekonomi lokal.
Bayangkan ratusan hingga ribuan orang datang ke kawasan Gerem selama satu atau dua hari, mereka membutuhkan makan, minum, oleh-oleh, penginapan, jasa transportasi lokal, dan puluhan kebutuhan lainnya. Kalau semua itu dipenuhi oleh vendor dari luar kota, uangnya pergi keluar begitu saja. Tapi kalau UMKM lokal yang mengisinya? Perputaran ekonominya tinggal di komunitas, dan itu efeknya berlipat ganda (Mossberg & Getz, 2006).
🎁 Peran UMKM Lokal dalam Ekosistem Gerem Trail Run
- Food & Beverage Bazaar — pedagang kuliner lokal Gerem dan sekitarnya mendapat slot prioritas di area finish line. Dari kopi lokal Banten hingga jajanan tradisional Cilegon, ini bukan sekadar pemanis acara tapi bagian dari DNA event.
- Penginapan dan Homestay — warga yang memiliki rumah di sekitar kawasan start/finish diberi kesempatan menawarkan penginapan kepada peserta dari luar kota, difasilitasi oleh POKDARWIS.
- Jasa Transportasi Lokal — ojek dan angkutan lokal diajak bermitra untuk mobilisasi peserta dari titik parkir menuju venue, menciptakan sumber pendapatan tambahan yang langsung terasa.
- Produk Kreatif Lokal — merchandise tambahan seperti kaos, topi, dan aksesori dengan motif khas Cilegon atau Banten difasilitasi untuk dijual di area event, memberikan platform bagi perajin lokal.
- Pemandu Wisata Lokal — bagi peserta yang datang lebih awal dan ingin eksplorasi kawasan, anggota POKDARWIS bisa berperan sebagai pemandu wisata berbayar.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep event leveraging yang diperkenalkan Chalip (2004), bahwa event olahraga besar harusnya tidak berhenti pada penciptaan pengalaman di hari-H, tapi dimanfaatkan sebagai katalis untuk pembangunan ekonomi lokal secara sistematis. Di Gerem, ini bukan teori, ini rencana yang sedang dieksekusi.
Persiapan Non-Teknis: Membangun Kepercayaan Sebelum Membangun Rute
Ada aspek persiapan yang tidak bisa diukur dengan meter atau stopwatch, tapi dampaknya bisa dirasakan di setiap sudut event. Ini tentang membangun kepercayaan, kepercayaan komunitas terhadap penyelenggara, kepercayaan penyelenggara terhadap mitra lokal, dan kepercayaan calon peserta terhadap keseluruhan event.
Tim Citasindo melakukan serangkaian community engagement yang dimulai jauh sebelum poster event pertama diunggah ke media sosial. Kunjungan ke tokoh masyarakat, diskusi kelompok dengan warga yang tinggal dekat rute, hingga sesi tanya jawab terbuka tentang dampak yang mungkin timbul dari kedatangan ratusan pelari ke kawasan mereka, semua dilakukan dengan sabar dan terbuka.
Hasilnya? Ketika poster pendaftaran akhirnya naik, Gerem Trail Run tidak hadir sebagai orang asing. Ia hadir sebagai sesuatu yang sudah lama ditunggu oleh orang-orang yang tinggal di lereng bukit itu.
"Sebuah event trail run yang baik tidak meninggalkan bekas hanya di catatan waktu peserta. Ia meninggalkan bekas di tanah yang dipijak, di wajah warga yang tersenyum, dan di cerita yang terus dituturkan lama setelah garis finish dilipat."
— Tim Citasindo, 2026
Hebat Bukan karena Besar, tapi karena Bersama
Ketika nanti kamu melangkahkan kaki melewati garis start Gerem Trail Run dan mulai menanjak di km pertama, ada hal yang mungkin tidak terpikirkan: bahwa tanjakan yang kamu pijak itu sudah disurvei puluhan kali, bahwa penanda rute yang memandumu itu dipasang dengan tangan warga setempat, dan bahwa kopi yang kamu minum di area finish itu diseduh oleh tetangga yang rumahnya hanya dua ratus meter dari jalur yang baru saja kamu lewati.
Gerem Trail Run bukan event yang jatuh dari langit. Ia dibangun, satu langkah, satu percakapan, satu kepercayaan dalam satu waktu. Dan di balik setiap detailnya, ada orang-orang dari komunitas yang sudah lama mencintai tempat ini jauh sebelum event ini ada.
Merekalah yang sesungguhnya mewujudkan Gerem Trail Run.
Bergabunglah dan Jadilah Bagian dari Cerita Ini
Gerem Trail Run bukan sekadar lomba, ini adalah perayaan komunitas, alam, dan semangat kolektif. Daftarkan dirimu dan rasakan sendiri apa artinya berlari di jalur yang dibangun dengan cinta.
📚 Referensi
- Chalip, L. (2004). Beyond impact: A general model for sport event leverage. Sport Tourism: Interrelationships, Impacts and Issues, 226–252. Channel View Publications.
- Suansri, P. (2003). Community Based Tourism Handbook. REST Project, Thailand.
- Mossberg, L., & Getz, D. (2006). Stakeholder influences on the ownership and management of festival brands. Scandinavian Journal of Hospitality and Tourism, 6(4), 308–326.
- Getz, D. (2012). Event Studies: Theory, Research and Policy for Planned Events (2nd ed.). Routledge.
- AOPGI Kota Cilegon. (2026). Laporan Survei Rute Gerem Trail Run 2026. Dokumen internal.
- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI. (2023). Panduan Pengembangan Desa Wisata Berbasis Komunitas. Kemenparekraf.


0 Komentar